ANYONE CAN WRITE - CORNER

Terus terang, tidak pernah terlintas sedetik pun dalam benak saya sebelumnya untuk menekuni dunia menulis. Kalau pun saya sudah menerbitkan beberapa buku dan beberapa naskah, semata-mata karena Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya. Saya belajar menulis secara otodidak, dan setelah dijalani, ternyata tidak terlalu sulit. Saya percaya, selain bakat, kalau ada kesempatan dan kemauan, siapa pun bisa menulis, tidak peduli apakah nantinya karya tersebut dipublikasikan secara luas, atau pun untuk dinikmati sendiri bersama orang-orang terdekat. Sewaktu masih sekolah dulu, saya mempunyai beberapa teman yang berkarya untuk dinikmati bersama. Dan, sungguh itu suatu pengalaman yang menarik, bisa berbagi secuil kebahagiaan secara tulus sambil mengungkapkan isi hati.

Saya percaya, siapa pun bisa menulis.
Untuk itu, Corner ini ada, untuk Anda dan saya, kita semua. Untuk berbagi cerita, tips dan pengalaman. Saya akan mulai dari pengalaman saya sendiri. Mungkin nanti ada yang tertarik untuk melengkapi atau pun mengurangi. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Saturday, November 13, 2010

Launching Buku "Bikin Sendiri Buku Lipatmu"


Buku baru saya kali ini boleh dikatakan berbeda sama sekali dengan buku-buku saya terdahulu, kali ini saya berkolaborasi dengan Diana Soetrisno (istri dari Ronald Walla - Wismilak Group).

Ide penulisan buku ini bermula ketika kami berdua menginginkan buku kreativitas untuk anak-anak yang lain daripada yang ada selama ini, buku dwi bahasa Inggris - Indonesia, dan mengutamakan banyak kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak seperti menggunting dan menempelkan. Disamping itu kami juga ingin mengenalkan suatu teknologi yang disebut “scanimation” merupakan teknik komputer animasi analog yang dikembangkan pada tahun 1960an akhir sampai tahun 1980an. Scanimation ini banyak digunakan pada produksi video berbasis animasi di televisi di era tahun 1970an-1980an untuk pembuatan iklan, promosi, pembukaan video show, musik video, dll. Ilusi optik adalah rahasia dari scanimation, yaitu dengan membuat garis-garis berjarak yang konsisten dan akurat kemudian meletakkan sebuah gambar yang sudah di olah di bawahnya. Gambar yang sudah diolah maksudnya, adalah gambar yang sudah dibuat bergaris seperti garis-garis diatasnya yang diulang dan ditumpuk secara berurutan. Dalam buku kami kali ini hanya kami perkenalkan sebagai hadiah kartu, namun harapan kami suatu saat nanti ada buku di Indonesia yang bisa berisi scanimation untuk materi cerita didalamnya.

Kami juga merasa mendapat kehormatan ketika Bu Dyah Katarina (istri dari Bapak Bambang DH - Wakil Walikota Surabaya) berkenan memberikan kata pengantar dan juga membuka launching buku kami di Gramedia Plaza Tunjungan tanggal 13 November kemarin, tak lupa juga Bapak Omar Ishananto, Direktur dari Pakuwon Group juga mau memberikan sepatah dua patah kata dalam kesempatan yang sama.

Semoga buku ini bisa menjadi manfaat bagi anak-anak Indonesia.




Tuesday, December 29, 2009

Merespons Nilai Lokal

Dua puluh karya perupa dalam Biennale Jawa Timur III dipamerkan di Sozo Art
gallery Surabaya, Kamis. Insert karya Millie Huang berjudul Time is Money (10/12)

Jumat, 11 Desember 2009 16:34 WIB

Surabaya, Kompas - Respons terhadap nilai-nilai lokal dalam lingkungan kehidupan sosio-kultural masyarakat menjadi bagian dari ekspresi perupa dari berbagai kota dan daerah di Jawa Timur. Realitas itu terekam dalam serangkaian lukisan karya perupa peserta Biennale Seni Rupa Jatim 2009 yang ditampilkan di Sozo Art Space, 13-22 Desember 2009.

Pameran itu menghadirkan 20 lukisan karya 20 perupa, di antaranya Damen-Damen karya Mas Poer (Ponorogo), Masih Ada yang Tersisa karya Tri Moelyo (Madiun), Dialog karya Meirza Said (Surabaya), Maleman Selawe karya Hanafi (Gresik), dan Time is Money karya Mllie Huang (Surabaya).

Mas Poer dalam karyanya mengangkat empat figur perempuan desa yang sedang mengangkut jerami-jerami dengan sepeda onthel. Adapun Tri Moelyo dalam lukisan kolasenya yang menggunakan material kain batik, anyaman bambu, kancing baju, dan pasir berwarna putih mencoba mengimpresikan sebuah abstraksi tentang perahu yang terkesan artistik.

Respons nilai-nilai kelokalan dalam sentuhan karya seni tersebut tak hanya tampak dalam karya Mas Poer maupun Tri Moelya, melainkan pula terlihat dalam lukisan karya Meirza Said. Meirza mencoba mengeksplorasi kain sarung hingga figur dua orang sedang duduk berbincang-bincang.

Sementara lukisan karya Hanafi dalam sentuhan abstraknya menyiratkan nilai-nilai religiusitas dalam ritus keagamaan yang masih kuat di tengah komunitas masyarakat pesisiran Gresik. Sebaliknya dalam lukisan Millie Huang yang berdarah Tionghoa, ekpresi nilai yang muncul tak lepas dari ranah Tiongkok.

Kurator Biennale Seni Rupa Jatim 2009, Agoes "Koecink" Soekamto, mengemukakan bahwa karya-karya yang dipamerkan di Sozo Art Space berbeda dengan karya-karya peserta biennale yang dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna.

"Dari tema mengurai akar budaya dan tradisional sebagai spirit, mereka berproses dalam pengembangan ide kreatifnya sehingga memunculkan karya-karya realis, ekspresionis, impresionis, dekoratif, dan naturalis," tuturnya. (TIF)


Monday, December 7, 2009

Biennale Jatim III


Please come and see, I will put two of my paintings at Sozo Gallery

Thursday, November 12, 2009

Rich Harvesting (Bali Painting)


Rich Harvesting
140 cm x 150 cm
Acrylic on Canvas,2009

The word ‘harvesting’ can be connected to the process to make yield. When wisdom and love combine to the harvesting process, it will come up to social responsibility. This process, once again will result in giving and receiving pattern. God has commanded us to conquer this world and had blessed us with prosperity, abundance for every of us.

Sunday, October 25, 2009

Perempuan dari Timur



Perempuan dari Timur

Setiap masyarakat diatur oleh rangkaian tanda, peran, dan ritual yang tidak saling berhubungan, sering disebut sebagai Tatanan Simbolik. Agar dapat berguna secara baik di dalam masyarakat, seorang anak harus memahami tatanan ini dengan baik, dan semakin banyak ia tunduk kepada aturan di dalam masyarakat, semakin banyak aturan yang terpatri di dalam ketidaksadarannya. Untuk menyesuaikan diri dengan tatanan ini, dilalui beberapa tahap: Tahap pertama adalah tahap pra Oedipal, yaitu dimana seorang bayi tidak menyadari batasan egonya, yang hanya mengerti bahwa ia dan ibunya adalah satu. Tahap kedua adalah tahap cermin, yaitu dimana bayi berpikir bahwa citra dirinya seperti terefleksi melalui cermin pandangan ibunya adalah dirinya yang sesungguhnya. Tahap ketiga adalah tahap Oedipal, yaitu tahap keterasingan antara ibu dan sang bayi, sejalan dengan perkembangan bayi menuju dewasa. Tahapan-tahapan ini perlahan-lahan akan membuat anak tunduk kepada tatanan Ayah.

Pengalaman anak laki-laki dalam proses pemisahan diri dengan ibunya berbeda dengan pengalaman anak perempuan. Contohnya pada tahap Oedipal, anak laki-laki menolak identifikasi dengan ibunya, menghindari keadaan hening seperti ketika berada di dalam rahim, kemudian mendekatkan diri dengan ayah yang mempunyai anatomi yang lebih mirip. Melalui identifikasi dengan ayahnya, anak laki-laki tidak hanya memasuki tahap dirinya sebagai subject dan individu tetapi juga menyesuaikan diri dengan tatanan dominan dalam masyarakat. Sementara itu, anak perempuan tidak dapat maksimal dalam pengidentifikasian dirinya kepada ayah dalam area psikoanalisis ini. Dengan demikian anak perempuan tidak dapat sepenuhnya menerima dan melakoni tatanan simbolik ini. Singkatnya, perempuan disingkirkan dari tatanan simbolik dan dikucilkan pada bagian yang kecil.

Jika menilik fenomena diatas, rasanya hidup ini menjadi flat-flat saja, apakah perempuan sekarang setuju dengan situasi tersebut? Tengah di-nina bobo-kan dengan standar pengetahuan dan penelitian yang dibakukan tentang perempuan? Jawabannya adalah TIDAK! Perempuan dari Timur, sengaja saya pilih sebagai tajuk yang pas dalam pameran ini. Selain para perupa perempuan ini adalah kelompok perupa Surabaya, yang disini saya terjemahkan sebagai Timur, Timur adalah identik dengan matahari terbit, awal dari sebuah kehidupan. Demikian juga dengan perempuan yang lahir atau tepatnya datang dari Timur, menjadi jiwa-jiwa yang akan menghangatkan seluruh negeri bak matahari. Kemudian, ketika melihat dan memaknai karya perupa perempuan dalam pameran Perempuan dari Timur ini, semakin meyakinkan saya bahwa mereka adalah makhluk yang berbicara lantang akan perannya sebagai perempuan sesungguhnya dalam masyarakat secara benar. Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan yang dibutuhkan oleh jaman, tanpa harus menengadah sombong dan mempertaruhkan harga diri. Selain itu mereka adalah perempuan yang menggunakan kesadaran penuh untuk meraih keinginannya agar mencapai sebuah keseimbangan karena struktur social, bukan karena patriarki. Mereka adalah perempuan yang menggunakan akal sehatnya untuk menjadi tetap tinggi, tetapi tidak mengancam. Kemudian saya pun menyetujui jika akhirnya hadir sebuah kalimat, Sudah saatnya bagi perempuan untuk tidak lagi bisu dalam kehampaan. Sudah seharusnya perempuan dilakonkan dalam suatu hal yang besar, melepaskan diri dari pemenjaraannya dan menghancurkan tatanan-tatanan simbolik yang membelenggu.
All the best,

Nana Tedja, SE, MSn

Tuesday, July 7, 2009

My Picture and Kampung Senang



Kampung Senang: We thank Millie for her wonderful rendition of our foundation's logo of a tree. Her portrayal of the almond tree in four season is a symbolism of the stages of life. The title "Harmony" is very much in line with our philosophy of living in harmony with ourselves, the environment and the universe at large.

Monday, May 18, 2009

Karya Millie Huang: Apresiasi Lukisan Bertema Tuhan Yesus Memberkati



Tabloid Gloria: Edisi 453 (minggu III Mei 2009)

Banyak orang yang mengekspresikan kehidupannya yang mereka lewati dengan berbagai media, seperti lewat lagu, musik, puisi dan lain sebagainya. Di Surabaya, Pameran lukisan (Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2009) yang digelar di Balai Pemuda Surabaya mulai tanggal 1-11 Mei 2009, sangatlah istimewa, tak hanya karena keterlibatan ratusan pelukis, galeri, dan kolektor dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi, juga karena kehadiran sejumlah pejabat yang membuka pameran. Para pejabat itu adalah Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf, Wakil Wali Kota Arif Afandi, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Kepala DInas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Priana Wirasaputra dan Direktur Utama Ciputra Group Sutoto Yakobus. PSLI dibuka dengan pemotongan rangkaian bunga yang dilakukan oleh empat pejabat.
Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 ini gaungnya pun merambah sampai ke Jakarta. Bahkan, ajang pameran seni lukis terbesar di Jatim ini sudah sampai ke telinga Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu. Saking tertariknya, Marie Elka ingin dijadwalkan sebagai tokoh pembuka event pukul 16.00 WIB. dan pameran lukisan ini diikuti sedikitnya 360 pelukis se-Indonesia.
Salah satunya adalah pelukis Millie Huang yang menghadirkan karya terbarunya berjudul "Tuhan Yesus Memberkati" berukuran 80 cm x 100 cm. Dalam karya ini melukiskan gambar Yesus melayang di atas sebentuk salib. Lukisan ini melambangkan kebangkitan dan penyertaan serta berkat Yesus kepada umatNya. Diambil dari Masmur 119:64a yang berbunyi: Bumi penuh dengan kasih setiaMu ya Tuhan. Dengan lukisan ini Millie berharap umatNya menyadari bahwa kita semua dicintai dengan amat sangat dan dipenuhi oleh berkat penyertaanNya dalam menjalani kehidupan.
Selain itu Millie juga menghadirkan lukisan Yesus disalib dengan pusaran badai di bawahnya yang melambangkan kemenangan Yesus atas dosa manusia serta kebangkitannya.
Lukisan ini (berukuran 70 cm x 100 cm) menggambarkan kasih yang tiada duanya dari seorang manusia yang rela memberikan nyawaNya sendiri untuk manusia-manusia lain seperti pada: Yohanes 3:16-17 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal."