ANYONE CAN WRITE - CORNER

Terus terang, tidak pernah terlintas sedetik pun dalam benak saya sebelumnya untuk menekuni dunia menulis. Kalau pun saya sudah menerbitkan beberapa buku dan beberapa naskah, semata-mata karena Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya. Saya belajar menulis secara otodidak, dan setelah dijalani, ternyata tidak terlalu sulit. Saya percaya, selain bakat, kalau ada kesempatan dan kemauan, siapa pun bisa menulis, tidak peduli apakah nantinya karya tersebut dipublikasikan secara luas, atau pun untuk dinikmati sendiri bersama orang-orang terdekat. Sewaktu masih sekolah dulu, saya mempunyai beberapa teman yang berkarya untuk dinikmati bersama. Dan, sungguh itu suatu pengalaman yang menarik, bisa berbagi secuil kebahagiaan secara tulus sambil mengungkapkan isi hati.

Saya percaya, siapa pun bisa menulis.
Untuk itu, Corner ini ada, untuk Anda dan saya, kita semua. Untuk berbagi cerita, tips dan pengalaman. Saya akan mulai dari pengalaman saya sendiri. Mungkin nanti ada yang tertarik untuk melengkapi atau pun mengurangi. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Thursday, November 12, 2009

Rich Harvesting (Bali Painting)


Rich Harvesting
140 cm x 150 cm
Acrylic on Canvas,2009

The word ‘harvesting’ can be connected to the process to make yield. When wisdom and love combine to the harvesting process, it will come up to social responsibility. This process, once again will result in giving and receiving pattern. God has commanded us to conquer this world and had blessed us with prosperity, abundance for every of us.

Sunday, October 25, 2009

Perempuan dari Timur



Perempuan dari Timur

Setiap masyarakat diatur oleh rangkaian tanda, peran, dan ritual yang tidak saling berhubungan, sering disebut sebagai Tatanan Simbolik. Agar dapat berguna secara baik di dalam masyarakat, seorang anak harus memahami tatanan ini dengan baik, dan semakin banyak ia tunduk kepada aturan di dalam masyarakat, semakin banyak aturan yang terpatri di dalam ketidaksadarannya. Untuk menyesuaikan diri dengan tatanan ini, dilalui beberapa tahap: Tahap pertama adalah tahap pra Oedipal, yaitu dimana seorang bayi tidak menyadari batasan egonya, yang hanya mengerti bahwa ia dan ibunya adalah satu. Tahap kedua adalah tahap cermin, yaitu dimana bayi berpikir bahwa citra dirinya seperti terefleksi melalui cermin pandangan ibunya adalah dirinya yang sesungguhnya. Tahap ketiga adalah tahap Oedipal, yaitu tahap keterasingan antara ibu dan sang bayi, sejalan dengan perkembangan bayi menuju dewasa. Tahapan-tahapan ini perlahan-lahan akan membuat anak tunduk kepada tatanan Ayah.

Pengalaman anak laki-laki dalam proses pemisahan diri dengan ibunya berbeda dengan pengalaman anak perempuan. Contohnya pada tahap Oedipal, anak laki-laki menolak identifikasi dengan ibunya, menghindari keadaan hening seperti ketika berada di dalam rahim, kemudian mendekatkan diri dengan ayah yang mempunyai anatomi yang lebih mirip. Melalui identifikasi dengan ayahnya, anak laki-laki tidak hanya memasuki tahap dirinya sebagai subject dan individu tetapi juga menyesuaikan diri dengan tatanan dominan dalam masyarakat. Sementara itu, anak perempuan tidak dapat maksimal dalam pengidentifikasian dirinya kepada ayah dalam area psikoanalisis ini. Dengan demikian anak perempuan tidak dapat sepenuhnya menerima dan melakoni tatanan simbolik ini. Singkatnya, perempuan disingkirkan dari tatanan simbolik dan dikucilkan pada bagian yang kecil.

Jika menilik fenomena diatas, rasanya hidup ini menjadi flat-flat saja, apakah perempuan sekarang setuju dengan situasi tersebut? Tengah di-nina bobo-kan dengan standar pengetahuan dan penelitian yang dibakukan tentang perempuan? Jawabannya adalah TIDAK! Perempuan dari Timur, sengaja saya pilih sebagai tajuk yang pas dalam pameran ini. Selain para perupa perempuan ini adalah kelompok perupa Surabaya, yang disini saya terjemahkan sebagai Timur, Timur adalah identik dengan matahari terbit, awal dari sebuah kehidupan. Demikian juga dengan perempuan yang lahir atau tepatnya datang dari Timur, menjadi jiwa-jiwa yang akan menghangatkan seluruh negeri bak matahari. Kemudian, ketika melihat dan memaknai karya perupa perempuan dalam pameran Perempuan dari Timur ini, semakin meyakinkan saya bahwa mereka adalah makhluk yang berbicara lantang akan perannya sebagai perempuan sesungguhnya dalam masyarakat secara benar. Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan yang dibutuhkan oleh jaman, tanpa harus menengadah sombong dan mempertaruhkan harga diri. Selain itu mereka adalah perempuan yang menggunakan kesadaran penuh untuk meraih keinginannya agar mencapai sebuah keseimbangan karena struktur social, bukan karena patriarki. Mereka adalah perempuan yang menggunakan akal sehatnya untuk menjadi tetap tinggi, tetapi tidak mengancam. Kemudian saya pun menyetujui jika akhirnya hadir sebuah kalimat, Sudah saatnya bagi perempuan untuk tidak lagi bisu dalam kehampaan. Sudah seharusnya perempuan dilakonkan dalam suatu hal yang besar, melepaskan diri dari pemenjaraannya dan menghancurkan tatanan-tatanan simbolik yang membelenggu.
All the best,

Nana Tedja, SE, MSn

Tuesday, July 7, 2009

My Picture and Kampung Senang



Kampung Senang: We thank Millie for her wonderful rendition of our foundation's logo of a tree. Her portrayal of the almond tree in four season is a symbolism of the stages of life. The title "Harmony" is very much in line with our philosophy of living in harmony with ourselves, the environment and the universe at large.

Monday, May 18, 2009

Karya Millie Huang: Apresiasi Lukisan Bertema Tuhan Yesus Memberkati



Tabloid Gloria: Edisi 453 (minggu III Mei 2009)

Banyak orang yang mengekspresikan kehidupannya yang mereka lewati dengan berbagai media, seperti lewat lagu, musik, puisi dan lain sebagainya. Di Surabaya, Pameran lukisan (Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2009) yang digelar di Balai Pemuda Surabaya mulai tanggal 1-11 Mei 2009, sangatlah istimewa, tak hanya karena keterlibatan ratusan pelukis, galeri, dan kolektor dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi, juga karena kehadiran sejumlah pejabat yang membuka pameran. Para pejabat itu adalah Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf, Wakil Wali Kota Arif Afandi, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Kepala DInas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Priana Wirasaputra dan Direktur Utama Ciputra Group Sutoto Yakobus. PSLI dibuka dengan pemotongan rangkaian bunga yang dilakukan oleh empat pejabat.
Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 ini gaungnya pun merambah sampai ke Jakarta. Bahkan, ajang pameran seni lukis terbesar di Jatim ini sudah sampai ke telinga Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu. Saking tertariknya, Marie Elka ingin dijadwalkan sebagai tokoh pembuka event pukul 16.00 WIB. dan pameran lukisan ini diikuti sedikitnya 360 pelukis se-Indonesia.
Salah satunya adalah pelukis Millie Huang yang menghadirkan karya terbarunya berjudul "Tuhan Yesus Memberkati" berukuran 80 cm x 100 cm. Dalam karya ini melukiskan gambar Yesus melayang di atas sebentuk salib. Lukisan ini melambangkan kebangkitan dan penyertaan serta berkat Yesus kepada umatNya. Diambil dari Masmur 119:64a yang berbunyi: Bumi penuh dengan kasih setiaMu ya Tuhan. Dengan lukisan ini Millie berharap umatNya menyadari bahwa kita semua dicintai dengan amat sangat dan dipenuhi oleh berkat penyertaanNya dalam menjalani kehidupan.
Selain itu Millie juga menghadirkan lukisan Yesus disalib dengan pusaran badai di bawahnya yang melambangkan kemenangan Yesus atas dosa manusia serta kebangkitannya.
Lukisan ini (berukuran 70 cm x 100 cm) menggambarkan kasih yang tiada duanya dari seorang manusia yang rela memberikan nyawaNya sendiri untuk manusia-manusia lain seperti pada: Yohanes 3:16-17 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal."

Sunday, March 29, 2009

Millie Huang Menemukan Ketenangan dalam Melukis




Minggu, 29 Maret 2009 16:45 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Abdul Lathif

SURABAYA,KOMPAS.com-Sejak di bangku Sekolah Dasar, Millie Huang (37), ibu seorang anak, Cai Tun (8), kelahiran Solo, Jawa Tengah yang bermukim di Surabaya, sudah gemar melukis.

Bahkan, semasa duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, dia sempat mengukir prestasi dalam bidang seni lukis sebagai juara ketiga dalam kompetisi melukis anak-anak, di Jepang.

"Saya belajar melukis di sanggar seni lukis gereja dekat rumah saya," kata Millie Huang, pekan lalu, di Surabaya.

Namun, selepas Sekolah Menengah Pertama dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas hingga lulus kuliah Teknik Kimia Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan bekerja di PT HM Sampoerna Surabaya, Millie Huang meninggalkan dunia seni lukis.

"Semasa masih di bangku SMP saya masih melukis dan lukisan pemandangan Tanah Lot yang saya ikutkan dalam lomba melukis di Solo keluar sebagai juara ketiga," kenangnya.

Setetah sekian tahun meninggalkan kegemarannya melukis, Millie Huang yang tinggal di Kompleks Perumahan Citra Raya, Surabaya, merasakan kehilangan sesuatu dalam kehidupannya.

"Setelah sebelas tahun bekerja dan sibuk mencari uang, saya merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam diri dan kehidupan saya, lalu saya berhenti bekerja dan kembali melukis," katanya.

Sejak kembali menggeluti dunia seni lukis, tahun 2006 lalu, Millie Huang yang sejak tahun 2008 lalu tercatat sebagai mahasiswa seni rupa STKW Surabaya, itu akhirnya menemukan ketenangan dalam kehidupannya.

"Separuh hidup saya ini akan saya curahkan untuk melukis, karena setiap kali melukis saya menemukan keseimbangan hidup," katanya sambil menambahkan, bahwa sebuah lukisannya berjudul The Grass Is Always Greener On The Other Sides dikoleksi oleh National University Hospital, Singapura.

Millie Huang yang kini telah kembali menggauli seni rupa, itu telah pula menyiapkan beberapa lukisan untuk diikutkan dalam pameran seni rupa, di Galeri Syah Alam, Malaysia. "Rencananya ada tiga buah lukisan yang saya ikutkan dalam pameran di Malaysia," katanya.

Friday, March 6, 2009

Firewalk Experience



Awal bulan Maret saya mengikuti pelatihan bersama Pak Tung Desem Waringin yang berjudul Life Revolution, sungguh sebuah seminar yang menarik yang mengajari banyak hal untuk bisa merubah kehidupan kita menjadi lebih baik.

Dan salam sebuah sesi ada yang namanya Firewalk berjalan diatas bara api, sebuah pengalaman yang amat sangat menarik, kita diharuskan berjalan melintasi bara api yang diletakkan diatas rumput dan pada desempatan kedua bahkan api dinyalakan. Inti dari pelajaran ini adalah untuk menaklukkan rasa takut kita, mengubah kita lebih berani dalam menghadapi hidup ini.

Pertanyaannya, apakah tidak sakit? Tentu saja ada sedikit rasa sakit, namun jangan kuatir semua itu sudah dilakukan penelitian secara ilmiah, demikian penjelasan dari Pak Tung.

Pengen coba? Join aja trainingnya.. :)

If I can do this, what else I can do...EVERYTHING!

Thursday, January 1, 2009

Berpikir Positif


Banyak cara dilakukan manusia untuk mengejar kebahagiaan dalam hidup, salah satunya adalah dengan berpikir positif. Berpikir positif adalah suatu sikap mental yang membawa pikiran, perkataan, visualisasi dan imaginasi kita ke arah yang lebih baik, lebih maju, lebih bertumbuh dan lebih sukses. Banyak studi membuktikan bahwa bahasa tubuh kita mencerminkan apa yang kita rasakan di dalam hati dan pikiran. Dan sebaliknya, pada saat pikiran kita dipenuhi hal-hal yang positif, semuanya bisa mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, kenyamanan bahkan kesehatan.

Hal inilah yang ditekankan pada dua lukisan saya kali ini, bahwa pikiran positif yang divisualisasikan lewat seni gambar bisa mengarahkan orang pada rasa syukur, yang pada akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan dan kesehatan. Atau dengan kata lain, menikmati suatu karya seni bisa mendatangkan kesembuhan. Lewat dua karya yang dipajang di National University (NUH) Singapore serta Cancer Care Clinic (CCC) – USA, saya mencoba berbagi kebahagiaan dan semangat untuk hidup.

Lukisan pertama berjudul “Silent!Listen!” dengan gambar dua telinga besar dan di bawahnya satu mulut yang dipaku dengan papan, dan dipajang di CCC - Avenue South, Great Falls, MT.

Dari kiri ke kanan adalah foto: Lisa O'Brien, Dr. Thomas, Warr, Dr. Karl Guter, Christine Kowalski - Director of oncology

Berikut komentar dari Lisa O’Brien – staf CCC: “Your work is very beautiful and touching.”

Lewat lukisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk berdiam sebentar, menutup mulut kita sejenak, untuk menikmati keindahan. Keindahan tumbuhan, binatang dan lingkungan di sekitar kita. Meletakkan sebentar ego kita untuk berbicara dan menggantinya dengan mendengarkan suara orang lain, bahkan suara alam sekitar. Berdiam sejenak membuat kita semua bisa berpikir kembali dengan lebih jernih dan positif, dan dari perenungan tersebut kita akan mendapatkan gairah dan semangat untuk hidup, untuk berjuang melawan penderitaan (termasuk sakit-penyakit).

Lukisan kedua yang bergambar sapi sedang melirik rumput tetangganya, menggambarkan manusia sering dikuasai rasa iri berlebihan sehingga kurang bisa melihat berkat dan anugerah yang telah diterimanya. Hanya rasa syukur lah yang bisa membawa kita pada kebahagiaan, khususnya di tengah situasi sulit, tanpa melupakan bahwa manusia harus tetap berusaha semampunya. Rasa syukur akan lebih memotivasi proses kita meraih mimpi. Khususnya untuk para pasien di rumah sakit, rasa syukur sangat diperlukan untuk memperoleh pikiran dan persaan damai yang pada akhirnya bisa membantu proses penyembuhan. Lukisan ini menjadi salah satu koleksi pajangan di NUH – Singapore sejak Januari lalu.


Dari kanan ke kiri adalah foto: Ms. Perine Lee, Millie Huang, Caitlin Josephine, NUH nurses